Senin, 03 Juli 2017

ANAK-ANAK SALAH ASUH, APA DAMPAKNYA?

Belum lama ini saya melihat berita tentang kriminalitas yang dilakukan anak dibawah umur di salah satu situs berita online. sungguh miris rasanya. Anak-anak, yang kita tahu, seharusnya di umurnya yang masih belia sedang gencar-gencarnya meraih prestasi justru malah terjerat kasus kriminal. Mungkin kita akan bertanya-tanya, sebenarnya mengapa bisa terjadi demikian? Salah asuh? Benarkah? Mari kita bahas.
Ketika kita membahas perilaku seorang anak, tentu saja kita melihat faktor kondisi anak itu sendiri dan faktor luar(keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar anak) yang mempengaruhi anak. Keluarga, bertanggungjawab sebagai tempat pertama anak tumbuh dan berkembang. Tumbuh dan kembang anak akan optimal apabila kebutuhan fisik (sandang, pangan, papan) dan kebutuhan psikologisnya (dukungan, perhatian dan kasih sayang) terpenuhi dan seimbang. Namun terkadang keluarga justru malah menjadi sumber ancaman dan ketidktentraman anak, karena pola asuh orang tua dalam mendidik dan membesarkan anaknya dan perlakuan yang salah yang sering diterima anak dari keluarga (khususnya orang tua). Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian yang didapatkan oleh Putra (Andayani, 2001) melalui penelitiannya "A Focused on Child Abuse in Six Selected Provinces in Indonesia", menemukan bahwa hasil-hasil perlakuan salah tergadap anak yang terjadi dalam ranah publik dan domestik ternyata sebagian besar dilakukan oleh orang tua mereka. Perilaku salah yang dimaksud adalah segala jenis bentuk perlakuan yang mengancam kesejahteraan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, sosial, psikologis, mental dan spiritual (Andayani, 2001) sehingga anak tidak mempunyai karakter pribadi yang kuat sebagai benteng dalam dirinya.
Anak dalam lingkungan keluarga yang beriklim negatif dan penuh dengan perselisihan perkawinan serta konflik yang lebih umum berada dalam resiko tinggi dalam perkembangan perilaku yang bermasalah, seperti agresif, berperilaku kasar, dan depresi. Penelitian oleh Chang, Lansford, Scwartz, Farver (Izzaty, 2008) mengatakan  bahwa adanya korelasi positif antara pengasuhan yang negatif dengan munculnya tingkah laku bermasalah pada anak.
Pengasuhan erat hubungannya dengan kelekatan. Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Mc Cartney dan Dearing, 2002). John Bowlby menjelaskan bahwa kekurangan kasih sayang ibu akan menyebabkan kecemasan, kemarahan, penyimpangan perilaku dan depresi. Anak mendapat pengetahuan dari pengasuhnya, khususnya ibu. Anak yang memiliki orang tua yang mampu memenuhi kebutuhannya akan mengembangkan rasa percaya (trust) dalam menjalin hubungan. Selanjutnya secara simultan anak akan mengembangkan model yang parallel dalam dirinya. Setelah itu anak akan mengeneralisasikan dari orang tua ke orang lain, misalnya pada guru dan teman. Anak akan berpendapat bahwa guru dan teman adalah orang yang dapat dipercaya. Sedangkan anak-anak yang memiliki kecurigaan (mistrust) dan tumbuh sebagai anak yang pencemas dan kurang mampu menjalin hubungan sosial.
Dampak yang akan ditimbulkan dari salah asuh menurut Megawangi (Latifah, 2008) akan menghasilkan anak-anak kelak pada masa perkembangannya mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah, seperti:

  1. Anak menjadi acuh tak acuh, tidak butuh orang lain, dan tidak dapat menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan gangguan emosi negatif lainnya. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan, simpati, cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. Ia kelihatan sangat mandiri, tetapi tidak hangat dan tidak disenangi orang lain.
  2. Secara emosional tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain.
  3. Berperilaku agresif, yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik.
  4. Menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan berguna.
  5. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, seperti rasa tidak aman, khawatir minder, curiga dengan orang lain, dan merasa orang lain sedang mengkritiknya
  6. Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress, mudah tersinggung, mudah marah, dan sifat yang tidak dapat diprediksi oleh orang lain.
  7. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar, dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja, tawuran, dan lainnya.
  8. Orang tua yant tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak, akan membuat anak merasa tidak dekat, dan tidak menjadikan orang tuanya sebagai "role model". Anak akan lebih percaya kepada "peer group"nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif.
Maka, jika terjadi kegagalan keluarga sehingga menimbulkan dampak seperti di atas, perlu kerjasama dari pihak yang terkait untuk mencegah masalah yang berkepanjangan. Ketika keluarga sudah gagal dalam membentuk pendidikan karakter untuk anak, akan mempersulit institusi-institusi di luar keluarga dalam upaya memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak-anak mereka dalam keluarga.